Khawatir Target Dakwah Akan Menjauh

Khawatir Target Dakwah Akan Menjauh? Memang, dalam setiap dakwah pasti terdapat tantangan dan ujian yang senantiasa mengarahkan para kader dakwah menjadi lemah. Bukan sedikit, tetapi sangat banyak dan beraneka ragam bentuk dan jenis ujian tersebut. Salah satu bentuk ujian yang terkadang menghantui kader dakwah adalah khawatir bahwa orang yang akan didakwahi justru akan menjauh sehingga membuatnya ragu untuk tetap berdakwah kepadanya. Ingatlah, bahwa sesungguhnya agama itu adalah nasihat. Rasulullah sawbersabda, “Agama adalah nasihat.” Kami bertanya, “Untuk siapa?” Rasulullah saw. bersabda, “Untuk Allah, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, para pemimpin kaum Muslimin, dan kaum Muslimin secara umum.” (HR Muslim).

Maka barangsiapa yang beragama (Islam), maka wajib baginya untuk saling menasihati. Bukankah Allah swt telah mengatakan dalam surah Al ‘Asr bahwa orang-orang yang beruntung adalah orang-orang yang saling menasihati dalam kesabaran dan kebenaran? Maka ketika kita tahu bahwa apa yang akan kita sampaikan adalah sebuah kebenaran, sampaikanlah!

Dakwah islam

“Dan hendaklah kamu memutuskan perkara diantara mereka menurut apa yang telah diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka. Dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebagian apa yang telah diturunkan oleh Allah kepadamu. Jika mereka berpaling (dari hukum yang telah diturunkan oleh Allah), maka ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah berkehendak menimpakan musibah kepada mereka disebabkan sebagian dosa-dosa mereka. Dan sesungguhya kebanyakan manusia adalah orang-orang yang fasik.” QS. Al Maidah (5) : 49

Apakah kita berhak atau berani merubah ketetapan Allah swt yang sudah sangat jelas

Firman Allah swt di atas menegaskan kepada manusia agar selalu memutuskan segala bentuk perkara berdasarkan hukum Allah swt, berdasarkan petunjuk yang telah diturunkan-Nya, bukan berdasarkan hawa nafsu saja. Lalu dalam hal ini hukum apakah yang telah Allah swt turunkan kepada kita? Yaitu hukum mengenai boleh atau tidaknya pacaran dalam pandangan Islam. Dari postingan jawaban yang sebelumnya, sudah jelas bahwa ketetapan mengenai hukum pacaran dalam pandangan Islam adalah dilarang. Maka ketetapan Allah swt itulah yang harus kita pakai, bukan ketetapan berdasarkan nafsu, perasaan, atau logika semata. Apakah kita berhak atau berani merubah ketetapan Allah swt yang sudah sangat jelas tersebut?

Maka dalam hal ini, kita harus tetap menyampaikan atau mengingatkan kepada rekan kita yang salah pemahamannya. Dakwah adalah kewajiban setiap orang-orang yang beriman, kapanpun, dimanapun, dan kepada siapapun. Allah swt telah berfirman di dalam Al Quran yang artinya:

“Dan hendaklah ada diantara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar, merekalah orang-orang yang beruntung”. QS. Ali Imron (3) : 104

“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya ahli kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, diantara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang fasik”. QS. Ali Imron (3) : 110

Kedua ayat di atas menegaskan kewajiban setiap muslim untuk selalu beramar ma’ruf nahi munkar (berdakwah). Ma’ruf dan munkar selamanya akan saling berlawanan, mereka tidak akan pernah berjalan beriringan atau bergandengan. Pacaran dan dakwah selamanya pun akan berdiri ditepiannya masing-masing, tidak akan pernah bisa disatukan selama berada di jalur Islam. Sekali lagi, kita janganlah mencampuradukkan antara yang haq dan yang batil. Selamanya, kebaikan dan keburukan itu tidak akan pernah sama, meskipun keburukan itu sangat banyak dan sangat menarik hatimu. Ikan asin tidak akan berubah menjadi ayam goreng, meskipun dibalur tepung dan bumbu sedap kemudian digoreng dalam wajan. Begitu pula sebaliknya, ayam tidak akan berubah menjadi ikan asin goreng, meskipun sebanyak apapun kita menaburinya dengan garam dapur dan menggorengnya dalam wajan. Katakanlah bahwa yang haq adalah haq dan yang batil adalah batil.

“Katakanlah: “Tidak sama yang buruk dengan yang baik, meskipun banyaknya yang buruk itu menarik hatimu, maka bertakwalah kepada Allah hai orang-orang yang berakal, agar kamu mendapat keberuntungan”.” QS. Al Maidah (5) : 100

Memang tidak sedikit, mereka yang setelah mendapatkan penerangan justru bukan menjadi semakin dekat kepada Allah, tapi justru penerangan itu membuatnya menjauh dari ketaatan kepada Allah swt. Kenapa hal tersebut bisa terjadi? Banyak faktor yang dapat menyebabkan terjadinya hal tersebut, dan salah satunya adalah karena kebanyakan manusia itu biasanya mau enaknya saja. Artinya, mereka pilah-pilih dalam menjalankan hukum atau peraturan Allah swt dan Rasulullah saw. Bila peraturan itu ia rasa mudah dan atau menguntungkan, maka mereka akan menjalankannya dengan suka hati. Tapi jika peraturan itu ia rasa berat dan atau merugikan, ya ditinggalkan.

Meskipun demikian, bukan berarti kita berhenti untuk mendakwahi mereka, atau kemudian membenarkan kesalahan mereka agar mereka tidak semakin menjauh. Kalau hal itu kita lakukan, akhirnya hanya fisik mereka saja yang kelihatannya terus mendekat kepada Allah swt, sedangkan hatinya tetap saja semakin menjauh dari Allah swt. Maka dari itu, kita harus tetap istiqomah untuk saling menasihati, memberikan masukan-masukan, dan sebagainya sesuai dengan firman Allah swt yang artinya:

“Dan tetaplah memberi peringatan, karena sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang yang beriman.” QS. Az Zariyat (51) : 55

“Maka berilah peringatan, karena sesungguhnya kamu hanyalah orang yang memberi peringatan. Kamu bukanlah orang yang berkuasa atas mereka,” QS. Al Ghosyiah (88) : 21-22

Tetaplah memberikan peringatan, karena siapa tahu dengan peringatan itu lama-kelamaan ia akan mengerti dan bertaubat. Tetaplah memberi nasihat dan peringatan, namun janganlah terlalu hanyut dalam harapan bahwa ia akan mengerti, karena kita bukanlah orang yang berkuasa atas mereka, semua itu atas kehendak Allah swt semata. Jadi wajar jika satu saat ada diantara mereka yang akhirnya justru menjauh dari dakwah kita, karena kita bukanlah orang yang berkuasa kepada mereka, kita hanyalah manusia yang memiliki kewajiban untuk menyampaikan saja.

Bila Terjadi Perdebatan, Maka Bantahlah Dengan lembut

Beberapa hal yang perlu kita ingat untuk memperkecil kemungkinan semakin menjauhnya target dakwah kita adalah: sampaikan dengan penuh kelembutan, perlahan dan jangan memaksa, gunakan kata-kata yang lembut dan bersahabat, lakukan dengan penuh kesabaran, lakukan berulang-ulang karena dakwah bukanlah proses yang instan, lakukan dengan ikhlas jangan mengharap imbalan apapun. Dan janganlah bersikap menggurui, tapi bersikaplah layaknya seorang sahabat. Bila terjadi perdebatan, maka bantahlah dengan lembut dan jangan membuat perdebatan menjadi panjang karena itu akan menimbulkan ketidak nyamanan, sebagaimana firman Allah swt:

“Serulah (manusia) ke jalan Rabb-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Rabb-mu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya, dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk”. QS. An Nahl (16) : 125

Ketika kita mengetahui bahwa rekan dakwah kita terjerumus dalam pacaran, maka nasihati dan berilah peringatan dengan cara yang baik. Lakukan secara kontinyu dan penuh dengan kesabaran. Ingat! Lakukan secara kontinyu dan penuh kesabaran. Jangan langsung memvonis dan menjatuhkan palu “PUTUS!”. Ini masalah hati, perlu proses. Jangan mengharapkan proses yang instan. Sering2lah temui dia, ajak ke majelis ilmu secara intensif. Jangan pernah tinggalkan dia atau mengisolasikan dia dari jamaah, karena ia akan semakin lemah jika hal yang demikian kita lakukan. Kecuali, jika memang kita merasa tidak mampu atau kita merasa bahwa ilmu kita memang belum cukup, dan seandainya diteruskan dikhawatirkan justru kita yang akan terbawa arus (melemahkan iman kita), maka tinggalkanlah, atau serahkan kepada rekan kita yang mungkin lebih dalam pemahaman agamanya.

Kalau kita membenarkan rekan kita berpacaran dan tidak mau menasihatinya lantaran takut akan membuat dia semakin menjauh, sama saja artinya kita mengumpulkan manusia untuk bermaksiat kepada Allah swt, kita membenarkan orang untuk bermaksiat kepada Allah swt. Dalam hal ini, karena target dakwah adalah juga seorang aktivis dakwah, maka sama saja kita telah menjadikan rumah dakwah sebagai rumah maksiat. Seolah kita sedang menahan seorang aktivis dakwah agar tidak menjauh atau keluar dari aktifitas dakwah, namun kenyataan yang terjadi adalah kita telah membiarkan seorang aktivis dakwah bermaksiat di rumah dakwah.

Kita menganggap bahwa dengan membiarkan rekan kita berpacaran, maka ia tidak akan menjauh dari jalan Islam (dengan kata lain, ia akan dapat semakin mendekat kepada Allah swt). Tapi bukankah pacaran itu larangan Allah swt dan Rasulullah saw? Dan bukankah melanggar larangan Allah swt dan Rasulullah saw itu adalah salah satu bentuk maksiat kepada Allah swt dan Rasul-Nya? Lalu, bagaimana mungkin orang yang bermaksiat kepada Allah swt dan Rasulullah saw dapat semakin mendekatkan dirinya kepada Allah swt? Andaipun ia terlihat semakin dekat kepada Allah swt, maka kedekatan itu hanyalah sebatas fisiknya saja, sedangkan hati, ruh, dan keimanannya senantiasa semakin menjauh dari Allah swt. Kalau hal ini tidak kita berikan peringatan atau nasihat, bisa jadi ia akan berpikir bahwa apa yang ia lakukan adalah sebuah kebenaran, yang akhirnya akan membuatnya terus dan semakin tenggelam dalam kemaksiatan yang ia anggap sebagai kebaikan tersebut.

Ingatlah, bahwa kewajiban manusia hanyalah menyampaikan, maka teruslah menyampaikan. Sedangkan masalah hidayah, itu adalah rahasia dan hak mutlak Allah swt.

“Dan seandainya Rabb-Mu menghendaki, tentulah beriman semua orang yang terdapat di muka bumi seluruhnya. Maka apakah kamu (hendak) memaksa manusia supaya mereka menjadi orang-orang yang beriman semua.” QS. Yunus (10) : 99

“Dan sebagian besar manusia tidak akan beriman walaupun kamu sangat menginginkannya.” QS. Yusuf (12) : 103

Wallahua’lam